Minggu, 18 Juni 2023

Buku Dijual Sangat Murah!!!!! Dapatkan segera!!!!!!!!!!!!!!!!



Prolog; Latar Belakang
Bab     I           Kata Istawâ Dalam Tinjauan Terminologis
a.       Penyebutan Kata Istawâ,_
b.      Definisi Arsy,_
c.       Makna Istawâ Dalam Tinjauan Bahasa,_
d.      Pembahasan Terminologis,_
e.       Istawâ Dalam Makna Istawlâ Dan Qahara,_
f.        Tidak Semua Makna Istawlâ atau Qahara Berindikasi Sabq al-Mughâlabah,_
g.       Penggunaan Kata “Tsumma” Dalam Beberapa Ayat Tentang Istawâ,_
h.       Di Atas Arsy Terdapat Tempat,_
i.         Makna Nama Allah “al-‘Alyy” Dan Kata“Fawq” Pada Hak-Nya,_
j.        Di antara Ulama Ahlussunnah Dari Kalangan Ulama Salaf Dan Khalaf Yang Mentakwil Istawâ Dengan Istawlâ dan Qahara,_

Bab     II         Penjelasan Imam Empat Madzhab Tentang Makna Istawa
a.       Penjelasan Imam Malik ibn Anas,_
b.      Penjelasan Imam Abu Hanifah an-Nu’man ibn Tsabit,_
c.       Penjelasan Imam asy-Syafi’i,_
d.      Penjelasan Imam Ahmad ibn Hanbal,_

Bab     III        Jawaban Atas Kerancuan Faham Musyabbihah Dalam Pengingkaran Mereka Terhadap Tafsir Istawâ Dengan Istawlâ
a.       Kerancuan Pertama; Pengingkaran Mereka Terhadap Ahli Bahasa,_
b.      Kerancuan Kedua; Pemahaman Mereka Tentang Sabq al-Mughâlabah,_
c.       Kerancuan ke Tiga; Pengingkaran Mereka Terhadap Sya’ir Tentang Basyr Ibn Marwan,_
d.      Kerancuan Ke Empat; Pernyataan Mereka Bahwa Di Dalam Al-Qur’an Tidak Terdapat Penyebutan Kata Istawlâ (Menguasai),_
e.       Kerancuan ke Lima; Faedah Penyebutan Arsy Secara Khusus Dalam Ayat-Ayat Tentang Istawâ,_
f.        Kerancuan Ke enam; Pengingkaran Mereka Bahwa Tidak Ada Ulama Salaf Yang Mentakwil Istawâ Dengan Istawlâ,_
g.       Kerancuan Ke tujuh; Mereka Menyerupakan Sifat Menguasai Basyr Ibn Marwan Dengan Sifat Menguasai (al-Qahr; al-Istîlâ) Pada Hak Allah,_
h.       Kerancuan Ke Delapan; Pernyataan Mereka Bahwa Takwil Istawâ Dengan Istawlâ Adalah Faham Mu’tazilah,_
i.         Kerancuan Ke Sembilan; Keyakinan Tasybih Utsaimin Dalam Menyerupakan Istawâ Pada Hak Allah Dengan Istawâ Pada Hak Makhluk,_
j.        Kerancuan Ke Sepuluh; Mereka Mengatakan Bahwa Metodologi Takwil Sama Dengan Menafikan Sifat-Sifat Allah,_      

 

Bab     IV        Konsensus Akidah Tanzîh

a.       Pernyataan Ulama Bahwa Allah Ada Tanpat Dan Tanpa Arah,_

b.      Dalil Akal Kecusian Allah Dari Tempat Dan Arah,_

c.      Pernyataan Ulama Ahlussunnah Bahwa Allah Tidak Boleh Dikatakan Berada Di Semua Tempat Atau Ada Di Mana-Mana,_
d.      Langit Adalah Kiblat Doa,_
e.      Pernyataan Ulama Ahlussunnah Tentang Kekufuran Orang Yang Menetapkan Tempat Bagi Allah,_


Penutup_
Daftar Pustaka_
Riwayat Penulis_

 Latar Belakang

Al-Hamdu Lillâh Rabb al-‘Âlamîn.
Wa ash-Shalât Wa As-Salâm ’Alâ Rasûlulillâh.
Ada beberapa poin ringkas yang hendak penulis ungkapkan dalam mukadimah buku ini, sebagai berikut:

·        Bahwa kecenderungan timbulnya akidah tasybîh (Penyerupaan Allah dengan makhluk-makhluk-Nya) belakangan ini semakin merebak di berbagai level masyarakat kita. Sebab utamanya adalah karena semakin menyusutnya pembelajaran terhadap ilmu-ilmu pokok agama, terutama masalah akidah. Bencananya sangat besar, dan yang paling parah adalah adanya sebagian orang-orang Islam, baik yang dengan sadar atau tanpa sadar telah keluar dari agama Islam karena keyakinan rusaknya. Imam al-Qâdlî Iyadl al-Maliki dalam asy-Syifâ Bi Ta’rîf Huqûq al-Musthafâ mengatakan bahwa ada dari orang-orang Islam yang keluar dari Islamnya (menjadi kafir) sekalipun ia tidak bertujuan keluar dari agama Islam tersebut. Ungkapan-ungkapan semacam; “Terserah Yang Di atas”, “Tuhan tertawa, tersenyum, menangis” atau “Mencari Tuhan yang hilang”, dan lain sebagainya adalah gejala tasybîh yang semakin merebak belakangan ini. Tentu saja kesesatan akidah tasybîh adalah hal yang telah disepakati oleh para ulama kita, dari dahulu hingga sekarang.  Terkait dengan masalah ini Imam Ibn al-Mu’allim al-Qurasyi (w 725 H)[1], dalam kitab Najm al-Muhtadî Wa Rajm al-Mu’tadî[2], meriwayatkan bahwa sahabat Ali ibn Abi Thalib berkata: “Sebagian golongan dari umat Islam ini ketika kiamat telah dekat akan kembali menjadi orang-orang kafir”. Seseorang bertanya kepadanya: “Wahai Amîr al-Mu’minîn apakah sebab kekufuran mereka? Adakah karena membuat ajaran baru atau karena pengingkaran? Sahabat Ali ibn Abi Thalib menjawab: “Mereka menjadi kafir karena pengingkaran. Mereka mengingkari Pencipta mereka (Allah) dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat benda dan anggota-anggota badan”.

·        Ada seorang mahasiswa bercerita kepada penulis bahwa suatu ketika salah seorang dosen Ilmu Kalam mengajukan “pertanyaan” di hadapan para mahasiswanya, ia berkata: “Benarkah Allah maha kuasa? Jika benar, kuasakah Allah untuk menciptakan “Sesuatu” yang sama dengan Allah sendiri?”, atau “Benarkah Allah maha kuasa? Jika benar, maka mampukah Dia menciptakan sebongkah batu yang sangat besar, hingga Allah sendiri tidak sanggup untuk mengangkatnya?”, atau berkata: “Jika benar Allah maha Kuasa, maka kuasakah Dia menghilangkan Diri-Nya hanya dalam satu jam saja?”. Ungkapan-ungkapan buruk semacam ini seringkali dilontarkan di perguruan-perguruan tinggi Islam, terutama pada jurusan filsafat. Ironisnya, baik dosen maupun mahasiswanya tidak memiliki jawaban yang benar bagi pertanyaan sesat tersebut. Akhirnya, baik yang bertanya maupun yang ditanya sama-sama masuk dalam “kegelapan”, di mana mereka semua tidak dapat keluar darinya. Hasbunallâh. Entah dari mana pertanyaan buruk semacam itu mula-mula dimunculkan. Yang jelas, jika itu datang dari luar Islam maka dapat kita pastikan bahwa tujuannya adalah untuk menyesatkan orang-orang Islam. Namun jika yang menyebarkan pertanyaan tersebut orang Islam sendiri maka hal itu jelas menunjukan bahwa orang tersebut adalah orang yang sama sekali tidak memahami tauhid, dan tentunya pengakuan bahwa dirinya sebagai seorang muslim hanya sebatas di mulutnya saja. Inilah contoh kecil dari apa yang dimaksud oleh penulis bahwa Ilmu Kalam telah mengalami distorsi.
            Padahal, jawaban bagi pertanyaan sesat tersebut adalah bahasan sederhana dalam Ilmu Tauhid atau Ilmu Kalam; ialah bahwa hukum akal terbagi kepada tiga bagian; Pertama; Wâjib ‘Aqly; yaitu sesuatu yang wajib adanya, artinya; akal tidak dapat menerima jika sesuatu tersebut tidak ada, yaitu; keberadaaan Allah dengan sifat-sifat-Nya. Kedua; Mustahîl ‘Aqly; yaitu sesuatu yang mustahil adanya, artinya akal tidak dapat menerima jika sesuatu tersebut ada, seperti adanya sekutu bagi Allah. Ketiga; Jâ-iz ‘Aqly atau Mumkin ‘Aqly; yaitu sesuatu yang keberadaan dan ketidakadaannya dapat diterima oleh akal, yaitu alam semesta atau segala sesuatu selain Allah.
            Sifat Qudrah (kuasa) Allah hanya terkait dengan Jâ-iz atau Mumkim ‘Aqly saja. Artinya, bahwa Allah Maha Kuasa untuk menciptakan segala apapun yang secara akal dapat diterima keberadaan atau tidakadanya. Sifat Qudrah Allah tidak terkait dengan Wâjib ‘Aqly dan Mustahîl ‘Aqly. Dengan demikian tidak boleh dikatakan: “Apakah Allah kuasa untuk menciptakan sekutu bagi-Nya, atau menciptakan Allah-Allah yang lain?” Pertanyaan ini tidak boleh dijawab “Iya”, juga tidak boleh dijawab “Tidak”. Karena bila dijawab “Iya” maka berarti menetapkan adanya sekutu bagi Allah dan menetapkan keberadaan sesuatu yang mustahil adanya, dan bila dijawab “Tidak” maka berarti menetapkan kelemahan bagi Allah. Jawaban yang benar adalah bahwa sifat Qudrah Allah tidak terkait dengan Wâjib ‘Aqly dan tidak terkait dengan Mustahîl ‘Aqly.

·        Contoh kasus lainnya yang pernah dialami penulis, bahwa suatu ketika datang seorang mahasiswa yang mengaku sangat menyukai filasafat. Setelah ngobrol “basa-basi” dengannya,  tiba-tiba pembicaraan masuk dalam masalah teologi; secara khusus membahas tentang kehidupan akhirat. Dan ternyata dalam “otak” mahasiswa tersebut, yang kemudian dengan sangat “ngotot” ia pertahankan ialah bahwa kehidupan akhirat pada akhirnya akan “punah”, dan segala sesuatu baik mereka yang ada di surga maupun yang ada di neraka akan kembali kepada Allah. “Mahasiswa” ini beralasan karena jika surga dan neraka serta segala sesuatu yang ada di dalam keduanya kekal maka berarti ada tiga yang kekal, yaitu; Allah, surga, dan neraka. Dan jika demikian maka menjadi batal-lah definisi tauhid, karena dengan begitu berarti menetapkan sifat ketuhanan kepada selain Allah; dalam hal ini sifat kekal (al-Baqâ’).
            Kita jawab; Baqâ’ Allah disebut dengan Baqâ’ Dzâty; artinya bahwa Allah maha Kekal tanpa ada yang ada yang mengekalkan-Nya. Berbeda dengan kekalnya surga dan neraka; keduanya kekal karena dikekalkan oleh Allah (Bi Ibqâ-illâh Lahumâ). Benar, secara logika  seandainya surga dan neraka punah dapat diterima, karena keduanya makhluk Allah; memiliki permulaan, akan tetapi oleh karena Allah menghendaki keduanya untuk menjadi kekal, maka keduanya tidak akan pernah punah selamanya. Dengan demikian jelas sangat berbeda antara Baqâ’ Allah dengan Baqâ’-nya surga dan neraka. Kemudian, dalam hampir lebih dari enam puluh ayat al-Qur’an, baik yang secara jelas (Sharîh) maupun tersirat, Allah mengatakan bahwa surga dan neraka serta seluruh apa yang ada di dalam keduanya kekal tanpa penghabisan. Dan oleh karenanya telah menjadi konsensus (Ijmâ’) semua ulama dalam menetapkan bahwa surga dan neraka ini kekal selamanya tanpa penghabisan, sebagaimana dikutip oleh Ibn Hazm dalam Marâtib al-Ijmâ’, Imam al-Hâfizh Taqiyyuddin as-Subki dalam al-I’tibâr Bi Baqâ’ al-Jannah Wa an-Nâr, dan oleh para ulama terkemuka lainnya.
            Dalam pandangan penulis, sebenarnya mahasiswa seperti ini adalah murni sebagai korban distorsi Ilmu Kalam. Kemungkinan besarnya, ketika ia masuk ke Perguruan Tinggi, ia merasa bahwa dirinya telah berada di wilayah “elit” secara ilmiah, ia “demam panggung” dengan iklim wilayah tersebut, merasa dapat berfikir dan berpendapat sebebas mungkin, termasuk kebebasan berkenalan dengan berbagai faham teologis. Padahal ketika awal masuk ke Perguruan Tinggi tersebut ia adalah “botol kosong” yang tidak memiliki pijakan sama sekali. Akhirnya, karena ia botol kosong maka seluruh faham masuk di dalam otaknya, termasuk berbagai aliran faham teologis, tanpa sedikitpun ia tahu manakah di antara faham-faham tersebut yang seharusnya menjadi pijakan keyakinannya, padahal -dan ini yang sangat mengherankan-, mahasiswa tersebut kuliah di fakultas dan jurusan keagamaan. Tentunya lebih miris lagi, ketika faham-faham teologis yang beragam ini dijamah oleh otak-otak mahasiswa non-keagamaan.  Dan yang penulis sebut terakhir ini adalah realitas yang benar-benar telah ada di depan mata kita. Karenanya, seringkali kita melihat mahasiswa-mahasiswa yang berasal dari jurusan non-keagamaan mengusung faham-faham teologis yang sangat ekstrim, bahkan seringkali mereka mengafirkan kelompok apapun di luar kelompok mereka sendiri, padahal mereka tidak memahami atau bahkan tidak tahu sama sekali apa yang sedang mereka bicarakan.

·        Penulis termasuk cukup aktif “berselancar” di dunia maya, dalam banyak blog, web, facebook, twitter, dan lainnya sering menuangkan materi-materi tauhid di atas dasar aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah; termasuk melakukan dialog dengan beberapa orang yang memiliki faham di luar keyakinan penulis. Teks-teks mutasyâbihât, baik dari al-Qur’an maupun hadits-hadits Nabi, yang seharusnya dapat dipahami dengan logika yang sederhana menjadi bahan yang sangat “hangat”, bahkan cenderung “panas”; yang dengan sebabnya seringkali terjadi tuduhan “kafir”, “sesat”, “zindik”, “ilhâd”, dan semacamnya terhadap mereka yang tidak sepaham. Akibatnya, nama “Ahlussunnah Wal Jama’ah” menjadi “kabur”; khususnya bagi orang-orang awam yang bukan Ahl at-Tamyîz, hingga mereka tidak dapat membedakan antara keyakinan tauhid yang suci dengan keyakinan tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya) yang jelas menyesatkan.
Seringkali ketika “berselancar” di internet, penulis berdialog dengan beberapa orang yang “sangat ngotot” berkeyakinan bahwa Allah bertempat di atas arsy, lalu --dan ini yang sangat mengherankan-- pada saat yang sama mereka juga ngotot mengatakan bahwa Allah bertempat di langit. Untuk ini kemudian mereka mengutip beberapa ayat dan hadits yang menurut mereka sebagai bukti kebenaran aqidah tersebut. Penulis mencoba menyederhanakan “problem mereka” dengan logika sederhana;  “Bukankah arsy dan langit itu ciptaan Allah? Bila anda berkeyakinan arsy dan langit itu ciptaan Allah maka berarati menurut anda Allah berubah dari semula yang ada tanpa langit dan tanpa arsy menjadi bertempat pada kedua makhluk-Nya tersebut; lalu bukankah perubahan itu menunjukan kebaharuan? Bukankah pula arsy dan langit itu memiliki bentuk dan ukuran? Lalu bahkan anda sendiri mengatakan bahwa Allah berada di dua tempat; arsy dan langit?”. Logika-logika sederhana semacam inilah yang sengaja bahkan seringkali penulis ungkapkan untuk “menyehatkan” akal dan pikiran “orang-orang yang memiliki problem” di atas. Tapi alih-alih mereka mau berfikir, namun ternyata tuduhan “kafir”, “mu’ath-thil” (pengingkar sifat Allah) dan berbagai tuduhan lainnya yang diterima oleh penulis dari mereka, yang penulis sendiri tidak tahu persis apakah ungkapan-ungkapan semacam itu “senjata pamungkas” mereka? Nyatanya memang mereka mengutip beberapa ayat al-Qur’an dan Hadits-Hadits Nabi untuk dijadikan dasar bagi keyakinan mereka, tetapi masalahnya ialah bahwa ayat-ayat tersebut tidak dipahami secara komprehensif, tidak dipahami secara kontekstual, dan bahkan pemahaman mereka jauh berseberangan dengan pemahaman para ulama terdahulu yang benar-benar kompeten dalam masalah tersebut. Inilah di antara yang mendorong penulis untuk membukukan buku ini.

·        Benar, tulisan ini hanya menyentuh “setitik” persoalan saja dari lautan Ilmu Kalam, tetapi mudah-mudahan semua yang tertuang di dalamnya memiliki orientasi dan memberikan pencerahan, paling tidak dalam beberapa persoalan teologis. Hanya saja titik konsentrasi yang hendak penulis sampaikan kepada pembaca dari buku ini adalah esensi tauhid dengan akidah tanzîh di dalamnya yang diintisarikan dari firman Allah dalam QS. Asy-Syura: 11; bahwa Allah tidak menyerupai suatu apapun dari makhluk-Nya. Benar, Ilmu Kalam ini sangat luas, namun bukan untuk mengabaikan bahasan-bahasan pokok lainnya, penulis memandang bahwa pembahasan “Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah” untuk saat ini sangat urgen, tidak bisa ditawar-tawar lagi. Apa yang penulis ungkapkan pada poin nomor satu di atas tentang menyebarnya akidah tasybîh benar-benar sudah sampai kepada batas yang sangat merisihkan dan mengkhawatirkan, bahkan --meminjam istilah guru-guru penulis-- sebuah kondisi “yang tidak bisa membuat mata tertidur pulas”. Mudah-mudahan materi-materi lainnya menyangkut berbagai aspek Ilmu Kalam secara formulatif dapat segera dibukukan dalam bentuk bahasa Indonesia.
            Pada dasarnya seluruh apa yang tertuang dalam buku ini bukan barang baru, dan setiap ungkapan yang tertuang di dalamnya secara orisinil penulis kutip dari tulisan para ulama dan referensi-referensi yang kompeten dan dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, setiap “klaim”, “kesimpulan”, maupun “serangan” terhadap faham-faham tertentu di dalam buku ini, semua itu bukan untuk tujuan apapun, kecuali untuk mendudukan segala persoalan secara proporsional sebagaimana yang telah dipahami oleh para ulama saleh terdahulu.

·        Imam al-Hâfizh Abu Hafsh Ibn Syahin, salah seorang ulama terkemuka yang hidup sezaman dengan Imam al-Hâfizh ad-Daraquthni (w 385 H), berkata: “Ada dua orang saleh yang diberi cobaan berat dengan orang-orang yang sangat buruk dalam akidahnya. Mereka menyandarkan akidah buruk itu kepada keduanya, padahal keduanya terbebas dari akidah buruk tersebut. Kedua orang itu adalah Ja’far ibn Muhammad dan Ahmad ibn Hanbal”[3].
            Orang pertama, yaitu Imam Ja’far ash-Shadiq ibn Imam Muhammad al-Baqir ibn Imam Ali Zayn al-Abidin ibn Imam asy-Syahid al-Husain ibn Imam Ali ibn Abi Thalib, beliau adalah orang saleh yang dianggap oleh kaum Syi’ah Rafidlah sebagai Imam mereka. Seluruh keyakinan buruk yang ada di dalam ajaran Syi’ah Rafidlah ini mereka sandarkan kepadanya, padahal beliau sendiri sama sekali tidak pernah berkeyakinan seperti apa yang mereka yakini.
            Orang ke dua adalah Imam Ahmad ibn Hanbal, salah seorang Imam madzhab yang empat, perintis madzhab Hanbali. Kesucian ajaran dan madzhab yang beliau rintis telah dikotori oleh orang-orang Musyabbihah yang mengaku sebagai pengikut madzhabnya. Mereka banyak melakukan kedustaan-kedustaan dan kebatilan-kebatilan atas nama Ahmad ibn Hanbal, seperti akidah tajsîm, tasybîh, anti takwil, anti tawassul, anti tabarruk, dan lainnya, yang sama sekali itu semua tidak pernah diyakini oleh Imam Ahmad sendiri. Terlebih di zaman sekarang ini, madzhab Hanbali dapat dikatakan telah “hancur” karena dikotori oleh orang-orang yang secara dusta mengaku sebagai pengikutnya.

·        Sebenarnya kajian Ilmu Kalam Ahlussunnah sangat luas, laksana lautan yang tidak bertepi. Tulisan yang tertuang dalam buku ini adalah sebagian kecil saja dari hasil pelajaran yang telah ditungkan oleh murid-murid Imam al-Hâfizh asy-Syaikh Abdullah al-Harari kepada penulis dan teman-teman. Di antara murid Imam al-Hâfizh al-Harari tersebut adalah asy-Syaikh al-‘Allâmah al-Habîb Salim ibn Mahmud Alwan al-Hasani, asy-Syaikh Fawwaz Abbud, asy-Syaikh Bilal al-Humaishi, asy-Syaikh al-Habîb Khalil ibn Abdil Qadir Dabbagh al-Husaini, asy-Syaikh al-Habîb Muhammad asy-Syafi’i al-Muth-thalibi, asy-Syaikh al-Habîb Umar ibn Adnan Dayyah al-Hasani, asy-Syaikh al-Habîb Muhammad Awkal al-Husaini, asy-Syaikh al-‘Allâmah Ahmad Tamim (Mufti Ukraina), dan lainnya. Terutama asy-Syaikh al-Habîb Salim ibn Mahmud Alwan yang kini menjabat secara formal sebagai ketua Majelis Fatwa asy-Syar’i di negara Australia, dari sekitar 12 tahun ke belakang hingga sekarang penulis masih tetap belajar kepadanya. Lewat tangan beliau, juga tangan para Masyâyikh, Kiyai dan Habâ-ib lainnya, penulis dan teman-teman telah benar-benar mendapatkan Tarbiyah ar-Rûh Wa al-Jasad. Maka, bukan untuk “berbangga diri”, tetapi sebagai ungkapan syukur (at-Tahadduts Bi an-Ni’mah), penulis katakan bahwa seluruh ilmu yang telah tertuang di dalam buku ini memiliki rangkaian sanad yang dapat dipertanggungjawabkan, yang mata rantai tersebut terus bersambung hingga sampai kepada pembawa syari’at itu sendiri, yaitu; Rasulullah Shallallâhu ‘Alayhi Wa Sallam.
Akhirnya, dengan segala keterbatasan dan segala kekurangan yang terdapat dalam buku ini, penulis serahkan sepenuhnya kepada Allah. Segala kekurangan dan aib semoga Allah memperbaikinya, dan seluruh nilai-nilai yang baik dari buku ini semoga menjadi pelajaran yang bermanfaat bagi  seluruh orang Islam. Amin.
Wa Shallallâh Wa Sallam ‘Alâ Rasûlillâh.
Wa al-Hamd Lillâh Rabb al-‘Âlamîn.

H. Kholil Abou Fateh, MA


DAFTAR PUSTAKA

al-Qur-ân al-Karîm.
Abbas, Sirajuddin, I’tiqad Ahlusuunah Wal Jama’ah, 2002, Pustaka Tarbiyah, Jakarta
Abadi, al-Fairuz, al-Qâmûs al-Muhîth, Cet. Mu’assasah ar-Risalah, Bairut.
Abidin, Ibn, Radd al-Muhtâr ‘Alâ ad-Durr al-Mukhtâr, Cet. Dar Ihya at-Turats al-‘Arabi, Bairut.
Amidi, al, Saifuddin, Abkâr al-Afkâr,
Ashbahani, al, Abu Nu’aim Ahmad Ibn Abdullah (w 430 H), Hilyah al-Awliyâ’ Wa Thabaqât al-Ashfiyâ’, Dar al-Fikr, Bairut
Ashbahani, al, ar-Raghib al-Ashbahani, Mu’jam Mufradât Gharîb Alfâzh al-Qur-ân, tahqîq Nadim Mar’asyli, Bairut, Dar al-Fikr,
Asqalani, al, Ahmad Ibn Ibn Ali Ibn Hajar, Fath al-Bâri Bi Syarh Shahîh al-Bukhâri, tahqîq Muhammad Fu’ad Abd al-Baqi, Cairo: Dar al-Hadits, 1998 M
_________,  ad-Durar al-Kâminah Fî al-Ayân al-Mi-ah ats-Tsâminah, Haidarabad, Majlis Da-irah al-Ma’arif al-Utsmaniyyah, cet. 2, 1972.
_________, al-Ishâbah Fî Tamyîz ash-Shahâbah, tahqîq Ali Muhammad Bujawi, Bairut, Dar al-Jail, cet. 1, 1992 M
_________, Tahdzîb at-Tahdzîb, Bairut, Dar al-Fikr, 1984 M.
_________, Lisân al-Mîzân, Bairut, Mu’assasah al-Alami Li al-Mathbu’at, 1986 M.
Asakir, Ibn; Abu al-Qasim Ali ibn al-Hasan ibn Hibatillah (w 571 H) Tabyîn Kadzib al-Muftarî Fîmâ Nusiba Ilâ Imam Abî al-Hasan al-Asy’ari, Dar al-Fikr, Damaskus.
Asy’ari, al, Ali ibn Isma’il al-Asy’ari asy-Syafi’i (w 324 H), Risâlah Istihsân al-Khaudl Fî ‘Ilm al-Kalâm, Dar al-Masyari’, cet. 1, 1415 H-1995 M, Bairut
Asy’ari, Hasyim, KH, ‘Aqîdah Ahl as-Sunnah Wa al-Jamâ’ah, Tebuireng, Jombang.
Azdi, al, Abu Dawud Sulaiman ibn al-Asy’ats ibn Ishaq as-Sijistani (w 275 H), Sunan Abî Dâwûd, tahqîq Shidqi Muhammad Jamil, Bairut, Dar al-Fikr, 1414 H-1994 M
Azhari, Isma’il al-Azhari, Mir-ât an-Najdiyyah, India
Baghdadi, al, Abu Manshur Abd al-Qahir ibn Thahir (W 429 H), al-Farq Bayn al-Firaq, Bairut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. Tth.
_________, Kitâb Ushûl ad-Dîn, cet. 3, 1401-1981, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Bairut.
­­_________, Tafsîr al-Asmâ’ Wa ash-Shifât, Turki.
Balabban, Ibn; Muhammad ibn Badruddin ibn Balabban ad-Damasyqi al-Hanbali (w 1083 H), al-Ihsân Bi Tartîb Shahîh Ibn Hibbân, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Bairut
_________, Mukhtashar al-Ifâdât Fî Rub’i al-‘Ibâdât Wa al-Âdâb Wa Ziyâdât. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, Bairut
Baghdadi, al, Abu Bakar Ahmad ibn Ali, al-Khathib, Târîkh Baghdâd,  Bairut, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t. th.
_________, al-Faqîh Wa al-Mutafaqqih, Cet. Dar al-Kutug al-‘Ilmiyyah, Bairut.
Bayjuri, al, Tuhfah al-Murîd Syarh Jawhar at-Tawhîd, Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi, Indonesia
Bayhaqi, al, Abu Bakar ibn al-Husain ibn ‘Ali (w 458 H), al-Asmâ’ Wa ash-Shifât, tahqîq Abdullah ibn ‘Amir, 1423-2002, Dar al-Hadits, Cairo.
_________, Syu’ab al-Îmân, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Bairut.
_________, as-Sunan al-Kubrâ, Dar al-Ma’rifah, Bairut. t. th.
Bantani, al, Umar ibn Nawawi al-Jawi, Kâsyifah as-Sajâ Syarh Safînah an-Najâ, Maktabah Dar Ihya’ al-Kutub al-‘Arabiyyah, Indonesia, th.  
_________, Salâlim al-Fudalâ Syarh Manzhûmah Kifâyah al-Atqiyâ’ Ilâ Thariq al-Awliyâ’, Syarikat al-Ma’arif Bandung, t. th.
Bakri, al, As-Sayyid Abu Bakar ibn as-Sayyid Ibn Syatha al-Dimyathi, Kifâyah al-Atqiyâ’ Wa Minhâj al-Ashfiyâ’ Syarh Hidâyah al-Adzkiyâ’. Syarikat Ma’arif, Bandung, t. th.
_________, Hâsyiyah I’ânah ath-Thâlibîn ‘Alâ Hall Alfâzh Fath al-Mu’in Li Syarh Qurrah al-‘Ayn Li Muhimmah ad-Dîn, cet. 1, 1418, 1997, Dar al-Fikr, Bairut.
Bayyadli, al, Kamaluddin Ahmad al-Hanafi, Isyârât al-Marâm Min ‘Ibârât Imam, tahqîq Yusuf Abd al-Razzaq, cet. 1, 1368-1949, Syarikah Maktabah Musthafa al-Halabi Wa Auladuh, Cairo.
Bukhari, al, Muhammad ibn Isma’il, Shahîh al-Bukhâri, Bairut, Dar Ibn Katsir al-Yamamah, 1987 M
Dahlan, Ahmad Zaini Dahlan, al-Futûhât al-Islâmiyyah, Cairo, Mesir, th. 1354 H
_________, ad-Durar as-Saniyyah Fî ar-Radd ‘Alâ al-Wahhâbiyyah, Cet. Musthafa al-Babi al-Halabi, Cairo, Mesir
Dawud, Abu; as-Sijistani, Sunan Abî Dâwûd, Dar al-Janan, Bairut.
Dawud, Abu; ath-Thayalisi, Musnad ath-Thayâlisiy, Cet. Dar al-Ma’rifah, Bairut
Dzahabi, adz-, Syamsuddin Muhammad ibn Ahmad ibn Utsman, Abu Abdillah, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, tahqîq Syua’ib al-Arna’uth dan Muhammad Nu’im al-Arqusysyi, Bairut, Mu’assasah ar-Risalah, 1413 H.
_________, Mîzân al-I’tidâl Fî Naqd al-Rijâl, tahqîq Muhammad Mu’awwid dan Adil Ahmad Abd al-Maujud, Bairut, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. 1, 1995 M
_________, an-Nashîhah adz-Dzahabiyyah, Bairut: Dar al-Masyari’, 1419 H-1998 M.
Dimyathi, ad, Abu Bakar as-Sayyid Bakri ibn as-Sayyid Muhammad Syatha ad-Dimyathi, Kifâyah al-Atqiyâ’ Wa Minhâj al-Ashfiyâ’ Syarh Hidâyah al-Adzkiyâ’, Bungkul Indah, Surabaya, t. th.
Fayyumi, al, al-Mishbâh al-Munîr, Cet. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Bairut.
Ghazali, al, Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad ath-Thusi (w 505 H), Kitâb al-Arba’în Fî Ushûl ad-Dîn, cet. 1408-1988, Dar al-Jail, Bairut
 _________, al-Maqshad al-Asnâ Syarh Asmâ’ Allâh al-Husnâ, t. th, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Cairo
_________, Minhâj al-Âbidîn, t. th. Dar Ihya al-Kutub al-‘Arabiyyah, Indonesia
_________, Ihyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn, Dar al-Fikr, Bairut.   
Ghumari, al, as-Sayyid Ahmad ibn Muhammad ash-Shiddiq al-Hasani al-Maghribi, Abu al-Faidl, al-Mughîr ‘Alâ al-Ahâdîts al-Mawdlû’ah Fî al-Jâmi’ ash-Shaghîr, cet. 1, t. th. Dar al-‘Ahd al-Jadid 
Hanbal, Ahmad ibn Hanbal, Musnad Ahmad, Dar al-Fikr, Bairut
Haytami, al, Ahmad Ibn Hajar al-Makki, Syihabuddin, al-Fatâwâ al-Hadîtsiyyah, t. th. Dar al-Fikr
_________, al-I’lâm Bi Qawâthi’ al-Islâm, cet. Dar al-Fikr, Bairut
Hakim, al, al-Mustadrak ‘Alâ al-Shahîhayn, Bairut, Dar al-Ma’rifah, t. th.
Habasyi, al, Abdullah ibn Muhammad ibn Yusuf, Abu Abdirrahman, al-Maqâlât as-Sunniyah Fî Kasyf Dlalâlât Ahmad Ibn Taimiyah, Bairut: Dar al-Masyari’, cet. IV, 1419 H-1998 M.
_________, asy-Syarh al-Qawîm Fî Hall Alfâzh ash-Shirât al-Mustaqîm, cet. 3, 1421-2000, Dar al-Masyari’, Bairut.
_________, ad-Dalîl al-Qawîm ‘Alâ ash-Shirâth al-Mustaqîm, Thubi’ ‘Ala Nafaqat Ahl al-Khair, cet. 2, 1397 H. Bairut
_________, ad-Durrah al-Bahiyyah Fî Hall Alfâzh al-‘Aqîdah ath-Thahâwiyyah, cet. 2, 1419-1999, Dar al-Masyari’, Bairut.
_________, Sharîh al-Bayân Fî ar-Radd ‘Alâ Man Khâlaf al-Qur-ân, cet. 4, 1423-2002, Dar al-Masyari’, Bairut.
_________, Izh-hâr al-‘Aqîdah as-Sunniyyah Fî Syarh al-‘Aqîdah ath-Thahâwiyyah, cet. 3, 1417-1997, Dar al-Masyari’, Bairut
_________, al-Mathâlib al-Wafiyyah Bi Syarh al-’Aqîdah an-Nasafiyyah, cet. 2, 1418-1998, Dar al-Masyari’, Bairut
_________, at-Tahdzîr asy-Syar’iyy al-Wâjib, cet. 1, 1422-2001, Dar al-Masyari’, Bairut.
Haddad, al, Abdullah ibn Alawi ibn Muhammad, Risâlah al-Mu’âwanah Wa al-Muzhâharah Wa al-Ma’âzarah, Dar Ihya’ al-Kutub al-‘Arabiyyah, Indonesia.
Haramain, al, Imam, Abu al-Ma’ali Abd al-Malik al-Juwaini, al-‘Aqîdah an-Nizhâmiyyah, ta’lîq Muhammad Zahid al-Kautsari, Mathba’ah al-Anwar, 1367 H-1948 M.
Hayyan, Abu Hayyan al-Andalusi, an-Nahr al-Mâdd Min al-Bahr al-Muhîth, Dar al-Jinan, Bairut.
Hibban, Ibn, ats-Tsiqât, Mu’assasah al-Kutub al-Tsaqafiyyah, Bairut
Hushni, al, Taqiyyuddin Abu Bakar ibn Muhammad al-Husaini ad-Dimasyqi ( w 829 H), Kifâyah al-Akhyâr Fî Hall Ghâyah al-Ikhtishâr, Dar al-Fikr, Bairut. t. th.
_________, Daf’u Syubah Man Syabbah Wa Tamarrad Wa Nasab Dzâlik Ilâ Imam al-Jalîl Ahmad, al-Maktabah al-Azhariyyah Li at-Turats, t. th.
Imad, al, Ibn; Abu al-Falah ibn Abd al-Hayy al-Hanbali, Syadzarât adz-Dzahab Fî Akhbâr Man Dzahab, tahqîq Lajnah Ihya al-Turats al-‘Arabi, Bairut, Dar al-Afaq al-Jadidah, t. th.
Iraqi, al, Zaynuddin Abd ar-Rahim ibn al-Husain, Tharh at-Tatsrîb Fî Syarh at-Taqrîb, cet. Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi, Bairut.
Iyadl, Abu al-Fadl Iyyadl ibn Musa ibn ‘Iyadl al-Yahshubi, asy-Syifâ Bi Ta’rîf Huqûq al-Musthafâ, tahqîq Kamal Basyuni Zaghlul al-Mishri, Isyrâf Maktab al-Buhuts Wa al-Dirasat, cet. 1421-2000, Dar al-Fikr, Bairut.
Isfirayini, al, Abu al-Mudzaffar (w 471 H), at-Tabshîr Fî ad-Dîn Fî Tamyîz al-Firqah al-Nâjiyah Min al-Firaq al-Hâlikîn, ta’liq Muhammad Zahid al-Kautsari, Mathba’ah al-Anwar, cet. 1, th.1359 H, Cairo.
Jailani-al, Abd al-Qadir ibn Musa ibn Abdullah, Abu Shalih al-Jailani, al-Gunyah, Dar al-Fikr, Bairut
Jama’ah, Ibn, Muhammad ibn Ibrahim ibn Sa’adullah ibn Jama’ah dikenal dengan Badruddin ibn Jama’ah (w 727 H), Idlâh ad-Dalîl Fi Qath’i Hujaj Ahl al-Ta’thîl, tahqîq Wahbi Sulaiman Ghawaji, Dar al-Salam, 1410 H-1990 M, Cairo
Jawzi, al, Ibn; Abu al-Faraj Abd ar-Rahman ibn al-Jawzi (w 597 H), Talbîs Iblîs, tahqîq Aiman Shalih Sya’ban, Cairo: Dar al-Hadits, 1424 H-2003 M
­­_________, Daf’u Syubah at-Tasybîh Bi Akaff at-Tanzîh, tahqîq Syaikh Muhammad Zahid al-Kautsari, Muraja’ah DR. Ahmad Hijazi as-Saqa, Maktabah al-Kulliyyat al-Azhariyyah, 1412-1991
_________, Zad al-Masîr Fî ‘Ilm at-Tafsîr, Cet. Zuhair asy-Syawisy, Bairut.
Jawziyyah, al; Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah, Hâdî al-Arwâh Ilâ Bilâd al-Afrâh, Ramadi Li an-Nasyr, Bairut.
Kalabadzi-al, Muhammad ibn Ibrahim ibn Ya’qub al-Bukhari, Abu Bakar (w 380 H), at-Ta’arruf Li Madzhab Ahl al-Tashawwuf, tahqîq Mahmud Amin an-Nawawi, cet. 1, 1388-1969, Maktabah al-Kuliyyat al-Azhariyyah Husain Muhammad Anbabi al-Musawi, Cairo
Katsir, Ibn; Isma’il ibn Umar, Abu al-Fida, al-Bidâyah Wa an-Nihâyah, Bairut, Maktabah al-Ma’arif, t. th.
Kautsari, al, Muhammad Zahid ibn al-Hasan al-Kautsari, Takmilah ar-Radd ‘Alâ Nûniyyah Ibn al-Qayyim, Mathba’ah al-Sa’adah, Mesir.
_________, Maqâlât al-Kawtsari, Dar al-Ahnaf , cet. 1, 1414 H-1993 M, Riyadl.
Khalifah, Haji, Musthafa Abdullah al-Qasthanthini al-Rumi al-Hanafi al-Mulla, Kasyf al-Zhunûn ‘An Asâmi al-Kutub Wa al-Funûn, Dar al-Fikr, Bairut.
Khallikan, Ibn; Wafayât al-A’yân, Dar al-Tsaqafah, Bairut
Laknawi, al, Abu al-Hasanat Muhammad Abd al-Hayy al-Laknawi al-Hindi, ar-Raf’u Wa at-Takmîl Fî al-Jarh Wa at-Ta’dîl, tahqîq Abd al-Fattah Abu Ghuddah, cet. Dar al-Basya-r al-Islamiyyah, Bairut.
Majah, Ibn, Sunan, cet. al-Maktabah al-‘Ilmiyyah, Bairut.
Malik, ibn Anas, al-Muwath-tha-, cet. Dar asy-Sya’b, Cairo.
Manzhur, Ibn, al-Ifriqi, Lisân al-‘Arab, cet. Dar Shadir, Bairut.
Maqarri-al, Ahmad al-Maghrirbi al-Maliki al-Asy’ari, Idla-âh al-Dujunnah Fi I’tiqâd Ahl al-Sunnah, Dar al-Fikr, Bairut.
Maturidi, al, Abu Manshur, Kitâb al-Tawhîd, Dar al-Masyriq, Bairut
Malibari, al, Zainuddin Ibn Ali, Nadzm Hidâyah al-Adzkiyâ’, Syirkah Bukul Indah, Surabaya, t. th.
Makki, al, Tajuddin Muhammad Ibn Hibatillah al-Hamawi, Muntakhab Hadâ-iq al-Fushûl Wa Jawâhir al-Ushûl Fî ‘Ilm al-Kalâm ‘Alâ Ushul Abî al-Hasan al-Asy’ari, cet, 1, 1416-1996, Dar al-Masyari’, Bairut
Mayyarah, Ahmad Mayyarah, ad-Durr at-Tsamîn Wa al-Mawrid al-Mu’în Syarh al-Mursyid al-Mu’în ‘Alâ adl-Dlarûriyy Min ‘Ilm ad-Dîn, cet. Dar al-Fikr, Bairut.
Mizzi, al, Tahdzîb al-Kamâl Fî Asmâ’ ar-Rijâl, Mu’assasah ar-Risalah, Bairut.
Mutawalli, al, al-Ghunyah Fî Ushûl ad-Din, Mu’assasah al-Kutub ats-Tsaqafiyyah, Bairut.
Muslim, Muslim ibn al-Hajjaj, Shahîh Muslim, Cat. Dar Ihya at-Turats al-‘Arabi, Bairut.
Nabhani, al, Yusuf Isma’il, Jâmi’ Karâmât al-Awliyâ’, Dar al-Fikr, Bairut
Naisaburi, al, Muslim ibn al-Hajjaj, al-Qusyairi (w 261 H), Shahîh Muslim, tahqîq Muhammad Fu’ad Abd al-Baqi, Bairut, Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi, 1404
Nawawi, al, Yahya ibn Syaraf, Muhyiddin, Abu Zakariya, al-Minhâj Bi Syarh Shahîh Muslim Ibn al-Hajjâj, Cairo, al-Maktab ats-Tsaqafi, 2001 H.
_________, Rawdlah at-Thâlibîn, cet. Dar al-Fikr, Bairut.
Najdi, an, Muhammad ibn Humaid an-Najdi, as-Suhub al-Wâbilah ‘Alâ Dlarâ-ih al-Hanâbilah, Cet. Maktabah Imam Ahmad.
Qari, al, Ali Mulla al-Qari, Syarh al-Fiqh al-Akbar, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Bairut
Qadli, al, Samir, Mursyid al-Hâ-ir Fî Hall Alfâzh Risâlah Ibn ‘Asâkir, cet. I, 1414 H-1994 M, Dar al-Masyari’, Bairut
Qath-than, Ibn, Abu al-Hasan Ali ibn al-Qath-than (w 628 H), an-Nazhar Fî Ahkâm an-Nazhar Bi Hâssah al-Bashar, tahqîq Muhammad Abu al-Ajfan, Cet. Maktabah at-Taubah, Riyadl.
Qusyairi, al, Abu al-Qasim Abd al-Karim ibn Hawazan an-Naisaburi, ar-Risâlah al-Qusyairiyyah, tahqîq Ma’ruf Zuraiq dan ‘Ali Abd al-Hamid Balthahji, Dar al-Khair.
Qurthubi, al, al-Jâmi’ Li Ahkâm al-Qur’ân, Dar al-Fikr, Bairut
Rifa’i, ar, Abu al-Abbas Ahmad ar-Rifa’i al-Kabîr ibn al-Sulthan Ali, Maqâlât Min al-Burhân al-Mu’ayyad, cet. 1, 1425-2004, Dar al-Masyari’, Bairut.
Razi, ar, Fakhruddin ar-Razi, at-Tafsîr al-Kabîr Wa Mafâtîh al-Ghayb, Dar al-Fikr, Bairut
Sarraj, as, Abu Nashr, Al-Luma’, tahqîq Abd al-Halim Mahmud dan Thaha Abd al-Baqi Surur, Maktabah ats-Tsaqafah al-Diniyyah, Cairo Mesir
Syafi’i, asy, Muhammad ibn Idris ibn Syafi’ (w 204 H), al-Kawkab al-Azhar Syarh al-Fiqh al-Akbar, al-Maktabah al-Tijariyyah Mushthafa Ahmad al-Baz, Mekah, t. th.
Sya’rani, as, Abd al-Wahhab, ath-Thabaqat al-Qubra, Maktabah al-Taufiqiyyah, Amam Bab al-Ahdlar, Cairo Mesir.
_________, al-Yawâqît Wa al-Jawâhir Fî Bayân ‘Aqâ-id al-Akâbir, t. th, Mathba’ah al-Haramain.
_________, al-Kibrît al-Ahmar Fî Bayân ‘Ulum asy-Syaikh al-Akbar, t. th, Mathba’ah al-Haramain.
_________, al-Anwâr al-Qudsiyyah al-Muntaqat Min al-Futûhât al-Makkiyyah, Bairut, Dar al-Fikr, t. th.
_________, Lathâ-if al-Minan Wa al-Akhlâq, Alam al-Fikr, Cairo
Subki, as, Taqiyyuddin Ali ibn Abd al-Kafi as-Subki, as-Sayf ash-Shaqîl Fî ar-Radd ‘Alâ Ibn Zafîl, Mathba’ah al-Sa’adah, Mesir.
_________, ad-Durrah al-Mudliyyah Fî ar-Radd ‘Alâ Ibn Taimiyah, dari manuskrif Muhammad Zahid al-Kautsari, cet. Al-Qudsi, Damaskus, Siria, th. 1347
_________, al-I’tibâr Bi Baqâ’ al-Jannah Wa an-Nâr, dari manuskrif Muhammad Zahid al-Kautsari, cet. Al-Qudsi, Damaskus, Siria, th. 1347
Subki, as, Tajuddin Abd al-Wahhab ibn Ali ibn Abd al-Kafi as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, tahqîq Abd al-Fattah dan Mahmud Muhammad ath-Thanahi, Bairut, Dar Ihya al-Kutub al-‘Arabiyyah.
Subki, as, Mahmud, Ithâf al-Kâ-inât Bi Bayân Madzhab as-Salaf Wa al-Khalaf Fi al-Mutasyâbihât, Mathba’ah al-Istiqamah, Mesir
Suhrawardi, as, Awârif al-Ma’ârif, Dar al-Fikr, Bairut
Syakkur, asy, Abd, Senori, KH, al-Kawâkib al-Lammâ’ah Fî Bayân ‘Aqîdah Ahl al-Sunnah Wa al-Jamâ’ah
Syahrastani, asy, Muhammad Abd al-Karim ibn Abi Bakr Ahmad, al-Milal Wa an-Nihal, ta’lîq Shidqi Jamil al-‘Athar, cet. 2, 1422-2002, Dar al-Fikr, Bairut.
Sulami, as, Abu Abd ar-Rahman Muhammad Ibn al-Husain (w 412 H), Thabaqât ash-Shûfiyyah, tahqîq Musthafa Abd al-Qadir Atha, Mansyurat Ali Baidlun, cet. 2, 1424-2003, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Bairut.
Suyuthi, as, Jalaluddin Abd ar-Rahman ibn Abi Bakr, al-Hâwî Li al-Fatâwî, cet. 1, 1412-1992, Dar al-Jail, Bairut.
­­­­­­­­­_________, ad-Durr al-Mantsûr Fî at-Tafsîr al-Ma’tsûr, Dar al-Fikr, Bairut.
Tabban, Arabi (Abi Hamid ibn Marzuq), Barâ-ah al-Asy’ariyyîn Min ‘Aqâ-id al-Mukhâlifîn, Mathba’ah al-‘Ilm, Damaskus, Siria, th. 1968 M-1388 H
Taimiyah, Ibn; Ahmad ibn Taimiyah, Minhâj as-Sunnah an-Nabawiyyah, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Bairut.
­­­_________, Muwâfaqah Sharîh al-Ma’qûl Li Shahîh al-Manqûl, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Bairut.
_________, Syarh Hadîts an-Nuzûl, Cet. Zuhair asy-Syawisy, Bairut.
_________, Majmû Fatâwâ, Dar ‘Alam al-Kutub, Riyadl.
_________, Naqd Marâtib al-Ijmâ’ Li Ibn Hazm, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Bairut.
_________, Bayân Talbîs al-Jahmiyyah, Mekah.
Thabari, ath, Târîkh al-Umam Wa al-Mulûk, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Bairut.
_________, Tafsîr Jâmi’ al-Bayân ‘An Ta-wîl Ây al-Qur-ân, Dar al-Fikr, Bairut
Tim Pengkajian Keislaman Pada Jam’iyyah al-Masyari al-Khairiyyah al-Islamiyyah, al-Jawhar ats-Tsamîn Fî Ba’dl Man Isytahar Dzikruh Bayn al-Muslimîn, Bairut, Dar al-Masyari’, 1423 H, 2002 M.
_________, at-Tasyarruf Bi Dzikr Ahl at-Tashawwuf, Bairut, Dar al-Masyari, cet. I, 1423 H-2002 M
Thabarani, ath, Sulaiman ibn Ahmad ibn Ayyub, Abu Sulaiman (w 360 H), al-Mu’jam ash-Shagîr, tahqîq Yusuf Kamal al-Hut, Bairut, Muassasah al-Kutuh al-Tsaqafiyyah, 1406 H-1986 M.
_________, al-Mu’jam al-Awsath, Bairut, Muassasah al-Kutub al-Tsaqafiyyah.
_________, al-Mu’jam al-Kabîr, Bairut, Muassasah al-Kutub al-Tsaqafiyyah.
Tirmidzi, at, Muhammad ibn Isa ibn Surah as-Sulami, Abu Isa, Sunan at-Tirmidzi, Bairut, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t. th.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar