Sabtu, 17 Desember 2022

PEMBAGIAN BID'AH OLEH MAYORITAS ULAMA : Menjawab syubhat wahabi Malaysia part II


Ini kritikan ilmiyyah kami bahagian kedua atas tulisan Dr Maza yang menulis tentang Bid’ah Hasanah, istilah yang disalah pahami.

Dr Maza mengatakan :
Sebelum kita menyelidiki maksud Bid‘ah Hasanah yang disebutkan dalam beberapa teks para ulama, terlebih dahulu kita wajar mendengar peringatan Nabi  shallallahu 'alaihi wasallam berhubung dengan bid‘ah. Sabda baginda:

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا. فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.


Sesungguhnya sesiapa yang hidup selepasku akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaklah kalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah al-Khulafa al-Rasyidin al-Mahdiyyin (mendapat petunjuk). Berpeganglah dengannya dan gigitlah ia dengan geraham. Jauhilah kamu perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama) kerana setiap yang diada-adakan itu adalah bid‘ah dan setiap bid‘ah adalah sesat.

Berdasarkan hadith ini, baginda menggunakan perkataan (كلّ) yang bermaksud semua. Berpandukan hadith ini dan kefahaman kita terhadap maksud bid‘ah seperti yang dinyatakan oleh al-Imam al-Syatibi, maka bid‘ah dari segi istilah syarak tidak sepatutnya dibahagikan kepada hasanah (baik) dan saiyyiah (buruk). Yang benar kesemuanya adalah saiyyah dan dhalalah (kesesatan).

Saya Jawab :

Ada dua jawaban ilmiyyah dan objektif  bagi kami atas masalah ini.

Pertama : Benar apa yang dimaksudkan oleh asy-Syathibi al-Maliki jika lafaz kullu dalam hadits tersebut nisbat kepada bid’ah syar’iyyah bukan bid’ah lughowiyyah sebagaimana telah kami jelaskan di artikel bahagian pertama. Maka maksudnya adalah setiap bid’ah secara syar’iyyah itu sesat tapi tidak bid’ah secara lughowiyyah.

Para ulama yang telah saya sebutkan pun, tidak membolehkan bid’ah dalam syare’at. Mereka membagi bid’ah menjadi dua atau menjadi lima hanyalah Dari segi bahasa saja yang disebut oleh asy-Syathibi dengan Maslahah Mursalah atau bid’ah lughatan. Hal ini pun telah dijelaskan oleh Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki sebagai berikut  :

ولذلك فإن تقسيم البدعة إلى حسنة وسيئة في مفهومنا ليس إلا للبدعة اللغوية التي هي مجرد الاختراع والإحداث ، ولا نشك جميعاً في أن البدعة بالمعنى الشرعي ليست إلا ضلالة وفتنة مذمومة مردودة مبغوضة ، ولو فهم أولئك المنكرون هذا المعنى لظهر لهم أن محل الاجتماع قريب وموطن النزاع بعيد . وزيادة في التقريب بين الأفهام أرى أن منكري التقسيم إنما ينكرون تقسيم البدعة الشرعية بدليل تقسيمهم البدعة إلى دينية ودنيوية ، واعتبارهم ذلك ضرورة . وأن القائلين بالتقسيم إلى حسنة وسيئة يرون أن هذا إنما هو بالنسبة للبدعة اللغوية لأنهم يقولون : إن الزيادة في الدين والشريعة ضلالة وسيئة كبيرة ، ولا شك في ذلك عندهم فالخلاف شكلي

" karena itu, sesungguhnya pembagian bid'ah pada bid'ah hasanah dan sayyi'ah dalam konsep kita tidak lain kecuali diarahkan untuk bid'ah lughawiyah yang hanya semata-mata kreasi baru (yang tidak bnertentangan dengan al-qur'an dan al-hadits). Kita semua tidak ragu bahwa bid'ah dalam arti syar'iy tidak ada kemungkinan lain kecuali sesat, fitnah, tercela dan tertolak.

Seandainya mereka yang ingkar memahami hal ini, maka akan tampak bagi mereka bahwa ruang dan kesempatan untuk bersatu menjadi dekat dan terbuka dan peluang untuk perselisihan menjadi jauh. Nambah komentar dalam rangka mendekatkan diantara pemahaman yang berkembang, saya berpandangan bahwa kelompok yang mengingkari pembagian bid'ah hanyalah hanyalah dalam konteks pembagian bid'ah syar'iyah dengan bukti mereka terpaksa membagi bid'ah menjadi diniyah dan dunyawiyah.

Kelompok yang membagi bid'ah menjadi hasanah dan sayyi'ah tidak lain diarahkan untuk bid'ah lughawiyah karena mereka berpandangan bahwa menambah agama dan syariat merupakan kesesatan dan kejelekan yang besar. Karena demikian tidak diragukan lagi bahwa perbedaan pendapat yang terjadi hanya pada permasalahan kulit, bukan substansi"[1]

Imam Malik rahimahullah pun sepakat dengan pemahaman ini, bahkan beliau mengakui adanya perkara baru yang baik sebagaimana akan kami jelaskan nanti. 
Kedua : hadits di atas datang secara umum, namun banyak sekali hadits-hadits sahih lainnya yang datang sebagai mukhashshih (pembatas)  atas keumuman hadits kullu tersebut atau dalam istilah ushul fiqihnya disebut sebagai عام مخصوص yakni   dikhususkan pada sebagian hal saja yaitu bid`ah yang buruk saja ,sehingga makna dari hadits ini adalah “setiap bid’ah yang buruk itu sesat”

Karena dalam bahasa arab, kata كُلّ  tidak selalu berarti seluruh, kadang memiliki arti kebanyakan atau sebagian. Pengartian seperti Ini adalah lughat fasih yang banyak terdapat dalam banyak ayat dan hadits diantaranya :
  • Al Quran surat Al Kahfi : 79

أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا

”Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusak bahtera itu, karena dihadapan mereka ada seorang raja yang  merampas tiap-tiap bahtera “ Qs. Al Kahfi : 79
Dalam ayat ini meskipun digunakan kata كُل akan tetapi yang dimaksud adalah perahu yang bagus saja, oleh karena itulah Nabi Khidir membuat aib dalam perahu agar tidak dirampas oleh raja tersebut.

  • Al Quran surat An Naml 23
إِنِّي وَجَدْتُ امْرَأَةً تَمْلِكُهُمْ وَأُوتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ
“ Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu dan dia memiliki singasana yang besar”
Ayat ini menceritakan mengenai Ratu Balqis, dalam ayat ini meskipun terdapat kata كُل akan tetapi yang dimaksud adalah sebagian saja, buktinya Ratu Balqis tidak memiliki kerajaan Nabi Sulaiman.
  • Hadits riwayat Imam Ahmad :

عَنِ الْأَشْعَرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ عَيْنٍ زَانِيَةٌ
Dari al-Asyari berkata: “ Rasulullah SAW bersabda: “ setiap mata berzina” (musnad Imam Ahmad)

Sekalipun hadits di atas menggunakan kata kullu, namun bukan bermakna keseluruhan/semua, akan tetapi bermakna sebagian, yaitu mata yang melihat kepada ajnabiyah.

Oleh sebab itulah Al-Imam Al-Nawawi menyatakan:

قَوْلُهُ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ هَذَا عَامٌّ مَخْصُوْصٌ وَالْمُرَادُ غَالِبُ الْبِدَعِ.

Sabda Nabi SAW, “semua bid’ah adalah sesat”, ini adalah kata-kata umum yang dibatasi jangkauannya. Maksud “semua bid’ah itu sesat”, adalah sebagian besar bid’ah itu sesat (bukan seluruhnya).”[2]

Pembagian bid’ah ini dari segi ‘aam (umum) dan khash (khsusunya) menunjukkan begitu cerdasnya para imam Ahlus sunnah di dalam memahami bid’ah secara akurat, konprehensip dan penuh kebijakan. Inilah solusi yang dari semua kemusykilan yang dialami oleh kaum wahabi di dalam memahami bid’ah. Namun sayangnya mereka enggan menerima solusi ini dan sombong dengan pemahaman dan pendapat mereka sendiri.

Dr Maza mengatakan :

al-Imam Malik bin Anas rahimahullah (179H) berkata:[2]

من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة فقد زعم أن محمدا صلى الله عليه وسلم خان الرسالة، لأن الله يقول: (اليَومَ أكْمَلْتُ لَكُم دِينَكُمْ) فما لم يكن يومئذ دينا فلا يكون اليوم دينا.

“ Sesiapa yang membuat bid‘ah dalam Islam dan menganggapnya baik maka dia telah mendakwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhianati risalah. Ini kerana Allah telah berfirman: “Pada hari ini aku telah sempurnakan agama kamu”. Apa yang pada hari tersebut tidak menjadi agama, maka dia tidak menjadi agama pada hari ini. “

Saya jawab :

Yang dimaksudkan oleh imam Malik dalam ucapannya itu adalah bid’ah dalam segi syare’at bukan bid’ah dalam segi bahasa. Sebab beliau juga mengetahui adanya perkara baru (muhdats) dan menganggap baik (hasanah) :

روي محمد بن يحيى عن مالك في المدونة انه قال عن قموت الوتر : انه لحسن وهو محدث لم يكن في زمن ابي بكر وعمر وعثمان

“ Muhammad bin Yahya meriwayatkan dari Malik dalam al-Mudawwanah Sesungguhnya imam Malik mengatakan tentang qunut witir : “ Bahwasanya qunut witir itu baik dan itu adalah muhdats (perkara baru) yang tidak ada pada masa Abu Bakar, Umar dan Utsman “.[3]

Imam al-Qurthubi menegaskan :

كل بدعة صدرت من مخلوق فلا يخلو أن يكون لها أصل في الشرع أولا، فإن كان لها أصل كانت واقعة تحت عموم ما ندب الله إليه وخص رسوله عليه، فهي في حيز المدح وإن لم يكن مثاله موجودا كنوع من الجود والسخاء وفعل المعروف، فهذا فعله من الافعال المحمودة، وإن لم يكن الفاعل قد سبق إليه. ويعضد هذا قول عمر رضي الله عنه: نعمت البدعة هذه، لما كانت من أفعال الخير وداخلة في حيز المدح، وهي وإن كان النبي صلى الله عليه وسلم قد صلاها إلا أنه تركها ولم يحافظ عليها، ولا جمع الناس، عليها، فمحافظة عمر رضي الله عنه عليها، وجمع الناس لها، وندبهم إليها، بدعة لكنها بدعة محمودة ممدوحة. وإن كانت في خلاف ما أمر لله به ورسوله فهي في حيز الذم 
والانكار، قال معناه الخطابي وغيره

“ Setiap bid’ah yang dating dari makhluk, maka tidak terlepas dari dua perkara yakni adakalanya memiliki asal dalam syare’at atau tidak ada asalnya. Jika memiliki asal dalam syare’at, maka masuk dalam keumuman apa yang Allah dan Rasul-Nya anjurkan, perkara ini masuk pujian (baik), walaupun belum ada contoh sebelumnya semisal merk (macam/jenis) dari sifat kedermawanan, kemurahan dan pebuatan ma’ruf, maka ini semua ini jika dilakukan adalah termasuk perbuatan terpuji, meskipun belum ada contoh orang yang melakukannya. Hal ini dikuatkan oleh ucapan Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu, “ Sebaik-baik bid’ah adalah ini “, karena termasuk perbuatan baik dan masuk dalam lingkup pujian. Walaupun sholat terawih ini pernah melakukannya, akan tetapi beliau meninggalkannya dan tidak merutinkannya, tidak pula mengumpulkan manusia untuk itu, maka perhatian Umar atas sholat terawih ini, usaha mengmpulkan orang banyak dan menganjurkannya adalah perkara bid’ahakan tetapi bid’ah mahmudah (terpuji). Dan jika perkara itu menyelisihi apa yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan, maka masuk dalam lingkup celaan dan keingkaran. Demikianlah dikatakan secara makna oleh al-Khaththabi dan selainnya. “[4]

Dari penjelasan ini sudah sangat jelas meskipun beliau menukil dari al-Khaththabi dan selainnya. Namun ditegaskan lagi oleh komentar dan penyimpulan beliau sendiri berikut ini :

قلت: وهو معنى قوله صلى الله عليه وسلم في خطبته: (وشر الأمور محدثاتها وكل بدعة ضلالة) يريد ما لم يوافق كتابا أو سنة، أو عمل الصحابة رضي الله عنهم، وقد بين هذا بقوله: (من سن في الاسلام سنة حسنة كان له أجرها وأجر من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من أجورهم شئ ومن سن في الاسلام سنة سيئة كان عليه وزرها ووزر من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من أوزارهم شئ) وهذا إشارة إلى ما ابتدع من قبيح وحسن، وهو أصل هذا الباب، وبالله العصمة والتوفيق، لا رب غيره

“ Aku (al-Qurthubi) katakana : “ Itulah makna ucapan Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam dalam khutbahnya : ( Dan seburu-buruknya perkara adalah perkara barunya dan setiap bid’ah itu sesat ) yang Nabi maksud adalah perkara baru yang tidak sesuai dengan al-Quran dan Sunnah atau perbuatan sahabat radhiallahu ‘anhum. Ini sungguh telah Nabi jelaskan dalam sabdanya : Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut, dan pahala dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa merintis dalam Islam sunnah yang buruk maka baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun”, ini adalah isyarat kepada bid’ah yang buruk dan bid’ah yang baik, inilah subtansi dalam bab ini. Dan dengan Allah lah kita mendapat ‘ishmah dan taufiq, tidak ada Rabb selain-Nya “. [5]

Dr Maza mengatakan :

 Perbahasan Bid‘ah Hasanah

Ada beberapa tokoh sarjana Islam, terutamanya tokoh-tokoh mazhab al-Syafi’i, yang telah menyebut dalam kitab-kitab mereka istilah Bid‘ah Hasanah atau yang hampir dengannya, seperti Bid‘ah Mahmudah (بدعة محمودة), bid‘ah wajib, bid‘ah sunat dan bid‘ah harus. Antara tokoh tersebut ialah al-Imam al-Syafi’i (204H), al-Imam al-‘Izz ‘Abd al-Salam (660H), al-Imam al-Nawawi (676H) dan al-Imam al-Sayuti (911H) rahimahumullah.

Akan tetapi apabila diteliti ucapan-ucapan mereka, kita dapati bid‘ah yang mereka maksudkan merujuk kepada Bid‘ah Hasanah dari sudut bahasa, bukan bid‘ah dari segi syarak. Marilah kita mengkaji lebih lanjut ucapan-ucapan mereka :

Saya jawab :

Wahai Dr Mohd Asri, sedikit saja anda mau merenungi perbedaan para ulama dalam mengistilahkan bid’ah, maka niscaya engkau akan mengetahui kebenaran yang begitu terang dalam pemahaman bid’ah yang dirumuskan mayoritas ulama Ahlus sunnah seperti imam Syafi’i, Nawawi, Qurthubi, Suyuthi, Ibnu Hajar dan selain mereka.

Ketahuilah wahai Dr Mohd Asri, memang benar apa yang disebut oleh mereka tentang pembagian bid’ah menjadi bid’ah sayyi’ah dan hasanah atau bid’ah mahmudah dan madzmumah, hanyalah masih dalam lingkup bahasa bukan syare’at sebagaimana telah kami jelaskan dalam artikel kritikan kami yang pertama dengan begitu gamlbang dan mudah dipahami.

Ibnu Rajab pun memahami hal ini sebagaimana penjelasan beliau berikut ini :
Ibnu Rajab al-Hanbali berikut ini :

وأمّا ما وقع في كلام السلف من استحسان بعض البدع فإنّما ذلك في البدع اللغوية لا الشرعية، فمن ذلك قول عمر رضي الله عنه لمّا جمع النّاس في قيام رمضان على إمام 
واحد في المسجد، وخرج ورآهم يصلون كذلك، فقال: نعمت البدعة هذه

“ Dan adapun apa yang terjadi pada ucapan ulama salaf dari menganggap baik (hasanah) pada sebagian bid’ah, maka sesungguhnya itu hanyalah dalam bid’ah segi bahasa saja bukan segi syar’iyyah. Di antara contoh hal itu adalah ucapan Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu ketika mengumpulkan manusia untuk mendirikan sholat malam di bulan Ramadhan pada satu imam di dalam masjid, beliau keluar dan melihat mereka sholat seperti itu, maka beliau berkata “ Sebaik-baik bid’ah adalah ini “. [6]

Andai kaum wahabi mau berlaku isnhaf dengan mengikuti rumusan mayoritas ulama, maka niscaya mereka akan bersikap toleran dan bahkan mengakui dengan segala perkara baru yang baik yang dilakukan mayoritas umat Islam di belahan dunia ini dalam agama mereka. Karena memiliki dalil dan asal dalam syare’at.

Dr. Maza mengatakan :

Antara bukti al-Imam al-Syafi‘i tidak memaksudkan bid‘ah dalam ibadah sebagai Bid‘ah Mahmudah ialah bantahan beliau terhadap golongan yang berterusan dalam berzikir secara kuat selepas solat. Amalan ini dianggap Bid‘ah Hasanah oleh sesetengah pihak.

Ketika mengulas hadith  Ibn ‘Abbas radhiallahu 'anh:

إنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Sesungguhnya mengangkat suara dengan zikir setelah orang ramai selesai solat fardu berlaku pada zaman Nabi shallallahu 'alaihi wasallam… al-Imam al-Syafi’i dalam kitab utamanya al-Umm berkata :

وأختار للامام والمأموم أن يذكرا الله بعد الانصراف من الصلاة ويخفيان الذكرَ إلا أن يكون إماما يُحِبُّ أن يتعلّم منه فيجهر حتى يُرى أنه قد تُعُلِّمَ منه ثم يُسِرّ.

“ Pendapatku untuk imam dan makmum hendaklah mereka berzikir selepas selesai solat. Hendaklah mereka mensenyapkan zikir kecuali jika imam mahu dipelajari daripadanya (mengajar bacaan-bacaan zikir tersebut), maka ketika itu dikuatkan zikir. Sehinggalah apabila didapati telah dipelajari daripadanya, maka selepas itu hendaklah dia perlahankan. “


Adapun hadith Ibn ‘Abbas di atas, al-Imam al-Syafi’i menjelaskan seperti berikut:

وأحسبه إنما جهر قليلا ليتعلّم الناس منه وذلك لأن عامة الروايات التي كتبناها مع هذا وغيرها ليس يذكر فيها بعد التسليم تَهليلٌ ولا تكبير، وقد يذكر أنه ذكر بعد الصلاة بما وصَفْتُ، ويذكر انصرافَه بلا ذكر، وذكرت أمُّ سلمةَ مُكْثَه ولم يذكر جهرا، وأحسبه لم يَمكُثْ إلاّ ليذكرَ ذكرا غير جهْرٍ. فإن قال قائل: ومثل ماذا؟ قلت: مثل أنه صلّى على المنبر يكون قيامُه وركوعُه عليه وتَقهْقَرَ حتى يسجدَ على الأرض، وأكثر عمره لم يصلّ عليه، ولكنه فيما أرى أحب أن يعلم من لم يكن يراه ممن بَعُد عنه كيف القيامُ والركوعُ والرفع. يُعلّمهم أن في ذلك كله سعة. وأستحبُّ أن يذكر الإمام الله شيئا في مجلسه قدر ما يَتقدم من انصرف من النساء قليلا كما قالت أم سلمة ثم يقوم وإن قام قبل ذلك أو جلس أطولَ من ذلك فلا شيء عليه، وللمأموم أن ينصرفَ إذا قضى الإمام السلامَ قبل قيام الإمام وأن يؤخر ذلك حتى ينصرف بعد انصرافِ الإمام أو معه أَحَبُّ إلي له.

“Aku berpendapat baginda menguatkan suara (zikir) hanya untuk seketika untuk orang ramai mempelajarinya daripada baginda. Ini kerana kebanyakan riwayat yang telah kami tulis bersama ini[7] atau selainnya, tidak menyebut selepas salam terdapat tahlil [8] dan takbir. Kadang-kala riwayat menyebut baginda berzikir selepas solat seperti yang aku nyatakan, kadang-kala disebut baginda pergi tanpa zikir. Umm Salamah pula menyebut duduknya baginda[9] (selepas solat) tetapi tidak menyebut baginda berzikir secara kuat. Aku berpendapat baginda tidak duduk melainkan untuk berzikir secara tidak kuat.

Jika seseorang berkata: “Seperti apa?”[10]. Aku katakan, sepertimana baginda pernah bersolat di atas mimbar, yang mana baginda berdiri dan rukuk di atasnya, kemudian baginda undur ke belakang untuk sujud di atas tanah. Kebanyakan umur baginda, baginda tidak solat di atasnya (mimbar). Akan tetapi aku berpendapat baginda mahu agar sesiapa yang jauh yang tidak melihat baginda dapat mengetahui bagaimana berdiri (dalam solat), rukuk dan bangun (dari rukuk). Baginda ingin mengajar mereka keluasan dalam itu semua.

Aku suka sekiranya imam berzikir nama Allah di tempat duduknya sedikit dengan kadar yang seketika selepas kaum wanita pergi. Ini seperti apa yang Umm Salamah katakan. Kemudian imam boleh bangun. Jika dia bangun sebelum itu, atau duduk lebih lama dari itu, tidak mengapa. Makmum pula boleh pergi setelah imam selesai memberi salam, sebelum imam bangun. Jika dia lewatkan sehingga imam pergi, atau bersama imam, itu lebih aku sukai untuknya.”

Nyata sekali al-Imam al-Syafi’i rahimahullah tidak menamakan ini sebagai Bid‘ah Hasanah, sebaliknya beliau berusaha agar kita semua kekal dengan bentuk asal yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Seandainya maksud Bid‘ah Mahmudah yang disebut oleh al-Imam al-Syafi’i merangkumi perkara baru dalam cara beribadah yang dianggap baik, sudah tentu beliau akan memasukkan zikir secara kuat selepas solat dalam kategori Bid‘ah Mahmudah. Dengan itu tentu beliau juga tidak akan berusaha menafikannya. Ternyata bukan itu yang dimaksudkan oleh beliau rahimahullah.

Saya jawab :

Menukil ucapan imam Syafi’i akan tetapi menggunting pemahaman yang dimaksud oleh imam Syafi’I ini disebut talbis. Ada dua kemungkinan dalam penyimpulan anda itu : Adakalanya anda tidak menguasai konsep madzhab imam Syafi’i atau anda  sengaja berbohong. Kemungkinan pertama sepertinya lebih tampak bagi anda wahai Doktor...
Pertanyaan untuk anda wahai doctor, di manakah dalam teks al-umm itu yang menyatakan imam Syafi’i menyimpulkan dzikir bil jahr (dengan suara keras) adalah bid’ah tercela dan sesat serta wajib dijauhkan ?? anda tidak akan menemukannya..simak baik-baik penjelasan berikut ini :
باب كلام الامام وجلوسه بعد السلام قال الشافعي قال عن أم سلمة زوج النبي صلى الله عليه وسلم قالت كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا سلم من صلاته قام النساء حين يقضى تسليمه ومكث النبي صلى 
الله عليه وسلم في مكانه يسيرا لكى ينفذ النساء قبل أن يدركهن من انصرف من القوم

“ Bab ucapan imam dan duduknya setelah salam (dalam shalat berjamaah).
1) Al-Syafi’i berkata, dari Ummu Salamah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila mengucapkan salam dari shalatnya, maka kaum wanita pergi ketika beliau selesai salam. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masih diam di tempatnya sebentar, agar kaum wanita selesai, sebelum disusul oleh kaum yang pergi (beranjak dari shalat) “.

Komentar saya :

Adakah dalam Sub judul di atas tertulis : “ Bab bid’ahnya mengangkat suara selepas sholat “ ??
Lanjutannya :

قال الشافعي عن ابن عباس قال كنت: أعرف انقضاء صلاة رسول الله صلى الله عليه وسلم بالتكبي
ر
2) Al-Syafi’i berkata, dari Ibnu Abbas berkata, “Aku mengetahui selesainya shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan suara takbir.”
Komentar saya :

Imam Syafi’i mulai menampilkan dalil mengenai apa yang hendaknya dilakukan oleh imam yakni bertakbir dengan jahr (terdengar makmum).

Lanjutannya :

قال الشافعي عن عبد الله بن الزبير يقول كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا سلم من صلاته يقول بصوته الاعلى " لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شئ قدير ولا حول ولا قوة إلا بالله ولا نعبد إلا إياه له النعمة وله الفضل وله الثناء الحسن لا إله إلا الله مخلصين له الدين 
ولو كره الكافرون " (قال الشافعي) وهذا من المباح للامام وغير المأموم

3) Al-Syafi’i berkata, dari Abdullah bin Zubair, berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila salam dari shalatnya, maka berkata dengan suaranya yang keras, laa ilaaha ilallallaah wahdahu laa syariika lah lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syay’in qadiir walaa haula wala quwwata illa billaah wala a’budu illa iyyaah lahun ni’matu walahul fahdlu walahu al-tsana’ul hasan laa ilaaha illallaah mukhlishiin lahuddiin walau karihal kaafiruun.” Al-Syafi’i berkata: “Mengeraskan bacaan ini termasuk mubah/boleh bagi imam, selain makmum.”

Komentar saya :

Imam Syafi’i membawakan dalil hadits di atas, untuk menunjukkan bahwa mubah bagi imam (selain makmum) berdzikir dengan suara keras. Jika hal ini merupakan jelas sebuah kesunnahan dari Nabi, kenapa imam Syafi’i tidak mengatakan ini sunnah bagi imam ?? dan tidak mengatakan bid’ah sesat bagi makmum ?? renungkanlah wahai doctor..
Lanjutannya :
قال وأى إمام ذكر الله بما وصفت جهرا أو سرا أو بغيره فحسن

4) Al-Syafi’i berkata, imam siapapun yang berdzikir kepada Allah dengan apa yang aku terangkan atau berbeda, denga suara keras atau pelan, maka itu adalah bagus.

Komentar saya :

Jika seandainya sunnah mengeraskan suara bagi imam atau memelankannya sebagaimana hadits yang dibawakan imam Syafi’i, kenapa beliau tidak mengatakan keduanya adalah sunnah ? ini menunjukkan tanggapan beliau bahwa hal ini masih dalam lingkup ijtihad yang siapapun ulama boleh berbeda pendapat tanpa adanya saling vonis bid’ah apalagi sesat. Berbeda dengan kaum wahabi yang hoby menghukumi bid’ah, sesat dalam masalah khilafiyyah furu’iyyah seperti anda ini wahabi doctor..

Lanjutannya :
وأختار للامام والمأموم أن يذكر الله بعد الانصراف من الصلاة ويخفيان الذكر إلا أن يكون إماما يجب أن يتعلم منه فيجهر حتى يرى أنه قد تعلم منه ثم يسر

5) Aku memilih bagi imam dan makmum untuk berdzikir kepada Allah setelah berpaling dari shalat, dan menyamarkan dzikir. Kecuali apabila ia seorang imam yang ingin dipelajari dzikirnya, maka ia mengeraskan sampai melihat bahwa orang telah benar-benar belajar darinya, kemudian memelankan.

Komentar saya :

Dalam teks ini, imam Syafi’i menggunakan lafaz Akhtaaru (aku memilih) dalam ilmu fiqih ini adalah lafaz yang digunakan untuk menunjukkan apa yang dipilih seorang ahli fiqih di antara banyaknya pendapat-pendapat yang berbeda dalam istilah fiqih disebut dengan shighat tarjih. Dalam arti lain ada pendapat lain yang berbeda dengan pendapat imam Syafi’i tersebut, dan beliau lebih memilih pendapat yang diutarakannya itu. Artinya beliau masih memberi kebebasan kepada yang lainnya untuk berbeda pendapat dari beliau. Bukan menyalahkan apalgi membid’ahkan pendapat lainnya sebagaimana kesalahan pemahaman oleh Dr Maza di dalam memahami teks imam Syafi’i ini.

Lanjutannya :
(قال الشافعي) وأحسبه إنما جهر قليلا ليتعلم الناس منه ذلك
6) Al-Syafi’i berkata: “Aku mengira, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, mengeraskan suaranya sedikit, agar orang-orang belajar darinya hal itu.”

Komentar saya :

Perhatikan ucapan imam Syafi’i di atas, beliau menggunakan lafaz dzhan (sangkaan) “ Aku mengira “. Ini bukan lah suatu kepastian dari beliau. Artinya beliau menduga (belum pasti dan tidak yakin) bahwa Rasulullah mengeraskan suaranya sedikit (tidak terlalu keras) untuk diikuti oleh para sahabatnya.

Lanjutannya :

واستحب أن يذكر الامام الله شيئا في مجلسه قدر ما يتقدم من انصرف من النساء قليلا كما قالت أم سلمة ثم يقوم وإن قام قبل ذلك أو جلس أطول من ذلك فلا شئ عليه

7) Aku menganjurkan agar imam berdzikir kepada Allah di majlisnya sekedarnya, kira-kira orang-orang perempuan yang pergi dapat maju sedikit sebagaimana dikatakan oleh Ummu Salamah, kemudian imam berdiri (pergi). Dan apabila ia pergi sebelum itu, atau duduk lebih lama lagi, maka tidak ada apa-apa baginya.
Lanjutannya :

وللمأموم أن ينصرفَ إذا قضى الإمام السلامَ قبل قيام الإمام وأن يؤخر ذلك حتى ينصرف بعد انصرافِ الإمام أو معه أَحَبُّ إلي له
8) Makmum boleh pergi apabila imam selesai shalat, sebelum berdirinya imam. Dan ia mengakhirkan hal itu sehingga ia pergi setelah perginya imam, atau bersamanya, lebih aku sukai.
Lanjutannya :

وأستحب للمصلى منفردا وللمأموم أن يطيل الذكر بعد الصلاة ويكثر الدعاء رجاء الاجابة بعد المكتوبة

9) Aku menganjurkan bagi orang yang shalat sendirian, dan bagi makmum agar berlama-lama dzikir setelah shalat dan banyak berdoa, karena mengharap terkabulnya doa setelah shalat maktubah (fardhu). [7]
Komentar saya :

Wahai doctor, di manakah ucapan imam Syafi’i dalam teks beliau itu yang menyatakan bahwa dzikir dengan suara keras setelah sholat adalah bid’ah dholalah ?? atau bukan bid’ah hasanah ??

Beliau sama sekali tidak menyinggung masalah bid’ah dalam bab fiqih ini, karena beliau paham bahwa ini masuk masalah ijtihadiyyah yang tidak boleh ditabdi’ (divonis bid’ah) bagi orang yang salah dalam berijtihad. Sebaiknya anda belajar lagi bab fiqih dan ushulnya wahai doctor…

Asy-Syathibi mengatakan :

إن جماعة من السلف الصالح جعلوا اختلاف الأمة في الفروع ضربًا من ضروب الرحمة، وإذا كان من جملة الرحمة، فلا يمكن أن يكون صاحبه خارجًا من قسم أهل الرحمة

“ Sesungguhnya sekelompok ulama salaf, menjadikan perbedaan umat dalam furu’ bahagian dari rahmat, jika hal itu termasuk rahmat, maka tidak mungkin orang yang berbeda pendapat keluar dari ahli rahmat “.[8]

Dan ternyata imam Syafi’I juga melakukan bid’ah hasanah, beliau menciptakan redaksi sholawat yang tidak diucapkan Nabi atau pun sahabat. Berikut redaksinya :

فصلَّى الله على نبيِّنا مُحَمَّدٍ كلَّما ذَكَرَهُ الذَّاكِرُونَ، وغَفَل عن ذِكْرِهِ الغافِلُونَ . وصلَّى الله عليه في الأوَّلين والآخرين، أفضلَ وأكثرَ وأزكى ما صلَّى على أَحَدٍ من خَلْقِـهِ

Menurut keterangan beberapa ulama, imam Syafi’i selain menulisnya di kitab ar-Risalahnya, beliau juga mengamalkannya.

Imam Nawawi mengatakan :

وَقَدْ يُسْتَأْنَسُ لَهُ بِأَنَّ الشَّافِعِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ يَسْتَعْمِلُ هَذِهِ الْعِبَارَةَ، وَلَعَلَّهُ أَوَّلُ مَنْ اسْتَعْمَلَهَا

“ Di ate;ah mendengar bahwa imam Syafi’i radhiallahu ‘anhu konon menggunakan teks tersebut, dan bahkan mungkin beliau orang pertama yang menggunakan shigat sholawat tersebut “.[9]




[1] Mafahim Yajibnu an Tushashshia, Sayyid Muhammad al-Maliki : 114
[2] Syarh Shahih Muslim, 6/154
[3] Al-Hawadits wa al-Bida’, ath-Thurthusyi : 48
[4] Tafisr al-Qurthubi : 2/84
[5] Tafisr al-Qurthubi : 2/84-85
[6] Jami’ al-Ulum wa al-Hikam, Ibnu Rajab : 2/128
[7]Al-Imam al-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu, al-Umm, 1/150-151, dengan disederhanakan

[8] Al-I’tisham : 2/170
[9] Asna al-Mathalib : 1/108

Tidak ada komentar:

Posting Komentar